Jumat, 04 Juli 2014

STRATEGI BERSAING "SAPI UNGU"


Pada suatu waktu, Seth Godin, seorang pakar marketing kelas dunia, berkendara melewati daerah pinggiran Perancis bersama keluarganya.  Tatkala melewati padang rumput yang luas, mereka dibuat terpukau oleh ratusan sapi yang sedang merumput. Sejauh beberapa kilometer , mereka memandang takjub pada pemandangan indah yang baru mereka temui. Ratusan sapi yang gemuk dan sehat sedang menikmati rumput hijau yang segar.

Namun setelah 20 menit, keluarga Godin mulai bosan dan menganggap pemandangan itu sebagai hal biasa. Apa yang semula mengagumkan dan indah , tampak menjadi pemandangan biasa setelah beberapa waktu. Lantas terbersit ide dalam pikiran Godin. Seandainya dalam kerumunan sapi tersebut terdapat sapi yang berwarna ungu, pasti akan menjadi sesuatu yang luar biasa dan menjadi sangat menarik bagi Godin dan keluarganya.

Sebagai pakar marketing, Godin langsung mendapat inspirasi untuk melahirkan konsep sapi ungu (purple cow) sebagai strategi marketing di tengah persaingan bisnis yang semakin hari semakin ketat.  Ia berpendapat, produk yang menakjubkan bisa berubah menjadi sesuatu yang biasa saja dalam waktu singkat. Maka di saat itulah pemenang persaingan adalah mereka yang dapat menyajikan produk yang unik, berbeda dan menarik perhatian.

Sebagaimana pernah saya tulis dalam rubrik ini, ada tiga cara menjadi pemenang dalam persaingan bisnis. Pertama, menjadi pelopor. Umpamanya adalah Aqua sebagai pelopor air minum dalam kemasan, atau teh botol Sosro sebagai pelopor teh dalam botol. Mereka adalah pemenang di area bisnisnya karena menjadi pelopor.

Jika menjadi pelopor tidak bisa, ada cara kedua, yaitu menjadi yang terbaik. Menjadi terbaik itu tidak mudah, karena setiap kali kita menjadi terbaik, maka besok pagi mungkin saja sudah muncul produk baru yang lebih baik. Pebisnis Jepang menggunakan konsep Kaizen, yakni perbaikan tiada henti. Mereka berpandangan, setiap kali mampu meningkatkan kinerja, maka akan ditemukan cara baru yang lebih bagus lagi. Tak heran jika produk-produk  Jepang baik itu elektronik maupun otomotif bisa menguasai pasar dunia, meskipun negara tersebut bukan pelopor dan penemu teknologi.

Apabila menjadi terbaik juga tidak mampu, maka ada jurus ketiga yaitu menjadi berbeda.  Perbedaan yang unik, yang membuat konsumen takjub, akan membuat produk bisa bersaing di pasaran. Kira-kira itulah yang disarankan Godin dalam strategi bersaing.

Dalam beberapa bulan ini,  diskusi tentang tantangan persaingan dalam pasar tunggal ASEAN demikian hangat. Beberapa pelaku bisnis menyatakan produk peternakan unggas, akan terancam oleh produk-produk luar negeri antara lain dari Thailand yang siap-siap masuk ke indonesia di akhir tahun 2015. Negara Gajah Putih itu sudah terbiasa masuk ke pasar Eropa dan negara lainnya. Jadi mereka terbiasa menguasai pasar internasional. Peternakan di Thailand semuanya menggunakan teknologi paling modern, efisien dalam tenaga kerja dan dukungan pemerintah berupa dukungan infrastruktur, insentif pajak, bunga bank rendah dan sebagainya.

Apakah tidak ada peluang bagi Indonesia untuk menang dalam persaingan ASEAN? Jika ditanyakan pada Godin, kemungkinan jawabannya adalah masih. Yaitu dengan menjalankan strategi sapi ungu.  Karena semua negara bersaing di level efisiensi produksi dan Indonesia kemungkinan kalah di area ini, maka Indonesia dapat menciptakan produk berbeda yang unik dan menarik. Itu sesungguhnya sudah ada dan tinggal dikembangkan. Misalnya produk ayam organik, telur omega tiga, telur rendah kolesterol dan sebagainya. Ini keunikan dari sisi content . Perlu dikembangkan pula keunikan dari sisi konteks. Misalnya produk peternakan hasil karya remaja pesantren, siswa-siswa SMK, pemuda di daerah terpencil  peternakan ramah lingkungan yang sekaligus sebagai tujuan wisata, dan kreativitas lain yang terus berkembang.

Anda punya ide lain? 


 

Entri Populer