Selasa, 08 April 2014

ALAM SEMESTA MENDUKUNG (Bambang Suharno)

Seorang mahasiswa yang menjadi pendiri dan pembina sebuah Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sebuah SMA swasta di Purwokerto Jawa Tengah sedang mengalami ujian berat. Ia bersama anak buahnya sudah terlanjur merencanakan kegiatan besar berupa seminar akbar gizi dan kecerdasan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional. Untuk ukuran sebuah sekolah yang baru meluluskan siswa 2 kali, kegiatan itu dianggap terlalu ambisius. Apalagi modal kegiatan ini hanyalah dukungan dari Kepala Sekolah dan siswa anggota KIR tersebut, serta dukungan seorang dokter dan ahli nutrisi yang siap jadi pembicara tanpa perlu dikasih honor. Tak ada dana sepeserpun untuk kegiatan itu.

Ia bersama para siswa menghadap kepala dinas pendidikan, kepala yayasan pemilik sekolah, beberapa perusahaan dan tokoh masyarakat. Namun menjelang jadwal yang ditentukan, hanya 1 perusahaan kecil yang bersedia mendukung pencetakan brosur dan makalah. Sampai 2 minggu menjelang acara, belum ada dukungan yang sesuai harapan. Ada pemikiran untuk dibatalkan saja, tapi kepala sekolah mengatakan, “tidak mungkin, ini kegiatan yang baik, harusnya banyak yang mendukung”.

Suasana benar-benar kritis. Tiba-tiba muncul gagasan mencetak kaos berlogo kelompok ilmiah remaja untuk dijual ke para siswa dan guru. Gagasan ini langsung diimplementasikan. Hasilnya mulai tampak. Hari berikutnya ada kabar dari pengelola gedung pertemuan bahwa usulan menggunakan gedung secara gratis diterima. Pada hari yang sama ada surat tembusan dari Dinas Pendidikan yang mengimbau kepada sekolah di beberapa kabupaten untuk mengirimkan siswanya mengikuti seminar. Dua hari itu panitia sibuk menerima pendaftaran peserta. Keajaiban tiba-tiba muncul.

Hari selanjutnya, diperoleh kabar bahwa ibu-ibu yayasan pemilik sekolah akan menyumbangkan konsumsi untuk semua peserta seminar. Ibu Dharma Wanita ikut membantu mengundang anggotanya untuk ikut seminar. Seorang wartawan lokal siap akan membawa teman-temannya untuk ikut meliput kegiatan seminar.

Menakjubkan, acara berjalan sukses, peserta membludak sampai 300an orang. Bahkan kegiatannya dimuat di media terkemuka di Jawa tengah, Yogyakarta,  RRI dan satu majalah nasional. Sungguh aneh, dalam kondisi kritis ada saja jalan keluar. Bukan hanya itu, seminar ini tak hanya mengangkat reputasi SMA, tapi juga anak-anak anggota memiliki kepercayaan diri bersaing dengan SMA negeri. Hasil yang tak kalah menyenangkan, para anggota bersama-sama mengadakan studi tour dengan menggunakan dana hasil seminar itu. Yang lebih menyenangkan lagi adalah bahwa ternyata mahasiswa itu adalah saya sendiri, 18 tahun lalu.

Ini adalah fenomena Mestakung, kata Yohanes Surya. Mestakung singkatan dari Semesta Mendukung. Menurutnya, dalam kondisi kritis, manusia dapat melakukan banyak hal yang jauh di atas kemampuan normal. Umpamanya, saat dikejar seekor anjing galak, seorang anak dapat lari 2 kali lebih cepat dari biasanya. Seorang ibu bisa memiliki keberanian menerobos kobaran api untuk menyelamatkan anaknya dari kebakaran rumah. Para prajurit Indonesia yang melawan penjajah, mampu berjalan ratusan kilometer dengan kondisi perut lapar.

Sebuah eksperimen fisika menunjukan, pada tekanan sekitar 218 tekanan udara normal dan suhu 374 derajat celcius, air berada pada kondisi kritis. Pada kondisi ini wujud air tidak bisa dibedakan antara cair dan gas. Jika sistem ini diganggu sedikit saja (misal dengan menaikan suhu sedikit saja), secara serentak, seluruh molekul mengatur dirinya merubah wujud air menjadi gas. Mestakung mengubah kondisi kritis, mengubah air menjadi gas dalam seketika. “Dalam fisika kejadian ini disebut fenomena kritis (critical phenomena),” kata Surya. Untuk anda ketahui, Prof Yohanes Surya adalah ahli fisika yang berhasil membawa pelajar Indonesia juara olimpiade fisika.

Alam semesta, kata Surya, telah didesain oleh Sang Pencipta sedemikian rupa sehingga mampu membantu kita keluar dari kondisi-kondisi kritis. Semesta mempunyai cara-cara yang unik (melalui self organizing atau pengaturan diri) untuk membantu kita melewati masa-masa sulit ini. “Jangan takut dengan keadaan kritis, bahkan untuk mencapai sukses, anda harus berani menciptakan keadaan kritis. Alam semesta selalu mendukung siapapun yang ingin melepaskan diri dari kondisi kritis,”kata Yohanes Surya.

Mestakung terjadi dimana-mana. Pasir mengatur diri ketika dituangkan ke atas lantai. Mula-mula pasir membentuk satu bukit. Tapi ketika bukit pasir mencapai ketinggian tertentu yang kita namakan ketinggian kritis, pasir yang jatuh mulai mengatur diri.
Mereka menempati posisi-posisi sedemikian sehingga kemiringan bukit tetap sama.


Angsa-angsa yang bermigrasi berada pada kondisi kritis (lingkungan tidak sesuai lagi untuk hidup mereka), secara alamiah akan bermestakung. Mereka akan mengatur dirinya, terbang membentuk formasi huruf V. Dalam formasi ini angsa dapat terbang ribuan kilometer tanpa terlalu lelah.

Saya meyakini, para pembaca pasti pernah mengalami kejadian “lolos dari kondisi kritis”. Kejadian ini bisa berupa keberanian menyatakan “tidak” pada orang yang paling ditakuti, keberhasilan menjadi panitia tujuhbelasan, keberanian menghadapi calon mertua, atau apapun, dimana saat itu anda dalam kondisi kritis dan mampu melewatinya dengan sangat baik. Kejadian tersebut sangat pantas menjadi sumber motivasi ketika suatu saat menghadapi hal serupa.



Ketika suatu hari anda merasa terjepit suatu masalah berat, ingatlah kejadian mestakung masa lalu. Anda akan mendapatkan energi baru untuk bangkit dan sukses. ***
Bambang Suharno

Artikel ini dikutip dari buku "Jangan Pulang Sebelum Menang" karya Bambang Suharno.
bambangsuharno@gmail.com 

Entri Populer